“Brrmm...”
Terdengar suara motor berhenti di
depan gerbang. Sambil menggendong si kecil Malika, Arum mengintip dari balik
tirai jendela ruang tamu. Dari arah kamar, si kembar¸ Dana dan Dani menghambur
keluar sambil berteriak “Ayah! Ayah!” Dan berebutan berusaha membuka pintu.
“Sebentar! Sebentar!” cegah Arum.
“Jangan berebutan, nanti kebentur. Sini biar Mama yang bukain.”
Begitu pintu terbuka, kedua bocah
lelaki itu menghambur mendekat ke motor Ayah yang sedang masuk gerbang. “Awas,
awas, Ayah mau masuk!” teriak Arum lagi mencoba menahan kedua jagoan ciliknya.
Dana dan Dani, melompat-lompat tak sabar di teras, menunggu ayah mereka
memarkir motor dan mengunci gerbang.
“Lho! Jam segini kok belum tidur,” kata
Pras kepada Dana dan Dani, sambil membuka jas hujan dan melipatnya.Dia
tersenyum pada Arum yang berdiri di belakang si kembar.
“Ini Malika juga belum tidur,” Arum
mencoba menemukan secuil senyum untuk suaminya.
“Lho, Malika anget, Ma,” kata Pras
setelah mencium si bayi.
“Iya, lagi tumbuh gigi. Ini tadi si
Bibik ijin setengah hari. Malika rewel terus, jadi ga bisa nidurin si kembar
deh. Ayah kok pulangnya malam?” Arum mencoba menahan diri untuk tidak
meneruskan keluhannya.
“Biasa ada urusan,” kata Pras
menyusul si kembar yang sudah lari ke kamar.
“Ayah, ayah, ayo main
guling-gulingan,” teriak dua anak itu sambil loncat-loncat di kasur. Pras
melempar jaket dan tasnya ke kursi lalu masuk kamar.
“Hei! Ayah cuci tangan dulu!” tegur
Arum sambil mencoba mendiamkan Malika yang mulai merengek.
“Yaaahhh...” teriak Dana Dani
kecewa.
Sambil mengikuti suaminya ke kamar
mandi, Arum berkata, “Mama capek dan ada deadline malam ini. Tolong Ayah
tidurkan mereka berdua ya. Mama seharian tadi belum sempat pegang komputer.”
“Iya,”
***
Arum melirik jam dinding. Setengah
sepuluh. Dia mengusap matanya yang
terasa berat. Tak mudah mengetik satu tangan sambil sebelah tangan menggendong
bayi. Tapi deadline tulisan ini tinggal 2 hari lagi. Arum menoleh ke arah kamar
yang masih terdengar ribut oleh tawa. Sambil menghela napas, dia berdiri dan
beranjak ke kamar.
“Dana, Dani, ini sudah jam setengah
sepuluh. Waktunya tidur. Besok kan sekolah. Ayah saja yang gendong Malika nih,
biar Mama yang nemenin mereka tidur,” Arum tak bisa menyembunyikan gemas dari
nada suaranya. “Kalau main-main heboh kayak gitu gimana mereka bisa tidur!”
Pras berdiri sambil agak salah
tingkah.
“Yaaahhh...Mau main dulu sama Ayah.
Ga mau tidur. ” protes si kembar.
“Sudah kalian tidur sama Mama.
Kasihan adek lagi sakit,” kata Pras sambil menerima Malika yang mulai merengek.
“Gimana cara gendongnya Ma?”
Setelah memasangkan gendongan
dengan kencang dan bayinya nyaman, meski Pras terlihat sedikit kerepotan, Arum
mendorong suaminya keluar dan menutup pintu kamar.
“Ayo, siapin bantalnya. Mama bacain
satu buku trus tidur ya!”
Meski merengut si kembar menuruti
kata-kata Mamanya.
***
Sepuluh seperempat. Arum sedikit
mengangkat kepala. Memastikan si kembar sudah tidur, perlu waktu cukup lama
untuk membuat kedua bocah lelaki ini cooling
down dan akhirnya tertidur. Tangan
Arum pegal karena mengipas-ipas. Ya, kedua bocah lelakinya ini sampai harus
dikipas biar cepat mengantuk.
Pelan dia beranjak dari ranjang,
lalu keluar kamar. Ruang tengah kosong. Tak ada tanda-tanda Ayah dan Malika.
Terdengar gumam tawa dari depan, sambil berkerut kening Arum beranjak ke depan.
Benar saja, Pras sedang sibuk bertelepon di luar dengan sebelah tangan
menggendong Malika. Bayi itu merengek-rengek karena tak nyaman, digendong
sembari bertelepon.
“Ayah, Gimana sih, Malika kan lagi
anget kok di bawa keluar malam-malam begini!”
“Iya ini ada telepon dari Kenny.
Lagian dia ga mau dibawa duduk.”
“Ya memang, dia kan lagi tumbuh
gigi makanya rewel. Mama aja sudah seharian ini gendong dia terus. Tidur siang pun Malika tak nyenyak. Sini
atuh, biar Mama yang gendong. Ayah makannya bikin mie saja ya, Mama ga sempat
masak.”
Sambil menggendong Malika, Arum
mulai bersenandung, sementara Pras masuk ke dapur.
***
Di ruang tamu
yang gelap, Arum bersenandung pelan sambil tubuhnya berayun-ayun. Mencoba
menidurkan bayinya. Malika memang rewel sekali hari ini. Tak mau turun atau pun
dibawa duduk. Bahkan menyusui pun sambil berdiri.
Sembari
bersenandung, Arum teringat obrolan dengan adik bungsunya, sekitar 7 tahun
lalu. Waktu itu sang adik memastikan kemantapan hatinya menikah dengan Pras.
Adiknya bahkan sampai bertanya 3 kali. “Yakin, mau menikah dengan dia, mbak?”
Mungkin adiknya
mengkhawatirkan dirinya. Menikah dengan bungsu dari 13 bersaudara memang tak
mudah. Apalagi Pras berasal dari keluarga Jawa yang sangat patriarkal, lelaki
tak pernah menyentuh pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Tapi Arum bersyukur,
suaminya mau berusaha. Meski kadang memang rasanya seperti punya anak empat dan
bukannya tiga anak dengan satu partner setara.
Dia rindu bercakap-cakap
dengan suaminya. Tentang berbagai hal. Sampai malam. Kini mereka seakan
tenggelam oleh rutinitas, kerja, uang dan anak-anak. Arum rindu bercakap
tentang hal-hal tak penting, tentang buku, film, hasrat, damba, rindu dan
mimpi. Kini Pras sepertinya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan sampai
malam pun dia kadang masih bertelepon dengan rekan kerjanya, atau kliennya.
Pras sepertinya tak sempat lagi tertawa bersamanya.
“Hhh...” Malika
mendesah. Arum menatap ke dadanya. Gadis kecilnya sekarang tidur nyenyak.
Pelan, sambil terus bersenandung dia masuk kamar dan menaruh si kecil di
boksnya. Syukurlah, Malika terus tertidur.
Setelah
menidurkan Malika, Arum keluar. Di ruang tengah, Pras tertidur di sofa dengan
TV menyala. Masih memakai pakaian kerja. Piring bekas makan tergeletak begitu
saja di lantai. Arum memungutnya dan membawanya ke dapur. Mencucinya.
“Mas, mas,” Arum
mencoba membangunkan Pras. Tetapi suaminya itu bergeming, dengkur pelan
terdengar dari mulutnya. Pelan Arum menghela napas, diambilnya selimut dan
diselimutinya tubuh Pras.
***
Sebelas
seperempat. Arum kembali membuka laptopnya. Dia senang menulis. Pekerjaan yang
dicintainya dan bisa dia lakukan di rumah. Namun, menulis memang kadang sebuah
pekerjaan yang sepi, apalagi kalau kau masih punya anak-anak kecil yang rewel
dan butuh banyak perhatian.
Arum menyalakan
Instan Messenger. Langsung ada pesan masuk. “Hei, Baby. Been waiting for you.”
“Hei. ^-^” Arum
menyapa.
“Lembur lagi ya?”
balas Willy dari seberang sana.
“Iya, temenin
ya.”
“Always, Baby.”
Ide dari tulisan di helm seseorang saat ke Cianjur tahun lalu

Kok mirip kisah penulisnya ya...hihihi...gak tau deh kalo bagian terakhirnya benerang nggak :P
ReplyDeleteTuh kan, jadi menduga-duga. Padahal ini idenya kan dari helm :)
ReplyDeleteFoto di endingnya membuatku bertanya-tanya, merujuk pada siapakah gerangan... selingkuhannya atau suami?
ReplyDeleteBukan fotonya!!! tapi captionnya itu yang pas banget dengan mood :)
ReplyDeleteMalem mbak esti saya mampir ya :)
ReplyDeleteWahhhh endingnya membuatku bertanya2 hahahaha. Hayooo siapakah willy? Ternyata nama panjangnya williana wilhelmina. Halah hahahahha
Hai memes, thanks udah mampir di blog yang ga pernah keisi ini hahah :p
ReplyDelete