Wednesday, November 7, 2012
Love is...
Tanganku keringetan. Jadi susah pegang bolpoin. Diam-diam kuturunkan kedua tanganku dan kuusapkan ke celana.
"Kenapa, Yat?" tanya Hilda sambil mendongak dan tersenyum.
Duh Gusti, manisnya. Sejumput poni halus jatuh ke dahinya, tanganku gatal ingin menyelipkannya ke daun telinganya yang mungil.
"Eh, ah, enggak," jawabku sambil buru-buru membalik halaman bukuku. Aku nggak ingin dia melihat bukuku yang penuh dengan tulisan namanya. Hilda, Hilda, Hilda. Love Hilda.
"Dah selesai belum?" tanya Hilda, sekali lagi dengan senyum manisnya.
"Emm, baru nomor dua."
"Oh, yang itu sih pakai rumus yang tadi, gampang kok."
Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum gugup.
Belajar bersama ini sebenarnya adalah usahaku agar hanya bisa berdua dengan Hilda. Cewek yang diam-diam kutaksir di sekolah baruku. Sejak aku pindah dari Jawa, Hilda adalah anak pertama yang baik padaku. Menyapaku dengan suara lembut dan senyum manisnya. Ia tak keberatan dengan keudikanku.
Tapi Hilda baik ke semua orang dan selalu dikerumuni oleh sahabat-sahabatnya, maklum dia ketua kelas, sekretaris OSIS lagi. Bikin aku susah mencari celah.
Untunglah, malam ini aku dapat kesempatan main ke rumahnya, meski dengan alasan belajar bersama. Tapi sudah satu jam berlalu dan tak kudapatkan juga keberanian itu. Lima belas menit lagi jam 9.
"Hil," panggilku pelan. Kedua tanganku menggenggam di bawah meja.
"Hmm?" sahut Hilda tanpa mengangkat kepala.
"Anu," kuusap-usapkan tanganku yang basah kena keringat ke celana. Satu tanganku terangkat, mencoba menghapus keringat dingin yang menetes di pelipis. "Ehm, anu... aku mau ngomong."
"Ngomong apa?" Hilda mendongak dan menatap lurus padaku.
"Ah, nggak jadi aja." Keberanianku langsung menguap.
"Kenapa? Ngomong aja, Dayat. Ga pa pa, kok."
Kupejamkan mata, kutarik napas panjang dan kuhembuskan keras-keras. Kubuka mata dan kutatap Hilda. Pujaan hatiku.
"Aku sa... "
"waduh... tekun banget belajarnya. Nih, Mama bikinin teh anget." Mama Hilda masuk membawa dua gelas teh. Kata-kataku langsung menggumpal dan menggelinding kembali masuk ke tenggorokan. Aku nyaris tercekik.
"Eh, oh, terima kasih, Tante. Sudah malam. Saya sudah mau pamit, kok."
"Lho, kok buru-buru? Diminum dulu tehnya."
"Iya, Yat," timpal Hilda. "Memang dah selesai?"
"Udah kok," kataku menghindari tatapan Hilda.
Cepat-cepat kubereskan bukuku, kuseruput habis teh buatan Mama Hilda. Panas.
"Saya pamit dulu, Tante, Hilda," kataku dan kabur keluar. Tak kuindahkan Hilda yang memanggil-manggil.
Baru sekarang aku benar-benar meresapi arti pungguk merindukan bulan
Labels:
fragmen ide
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment